Angka Nikah Muda Masih Tinggi, 90 Persen Hamil Duluan

14
0
BAGIKAN

Angka pernikahan usia remaja di Kalimantan Barat terbilang tinggi. Bahkan, angkanya melewati angka nasional. Kebanyakan karena kehamilan yang tidak diinginkan.

Menurut data Survei Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, angka kehamilan tidak diinginkan di Kalbar mencapai 24,9 persen. Artinya, dari setiap 1000 kelahiran, sebanyak 24,9 persen di antaranya merupakan kelahiran yang tidak diinginkan, dengan rentang usia 15 hingga 19 tahun.

Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalbar, Kusmana mengatakan, angka kehamilan tidak diinginkan (KTD) di Kalimantan Barat merupakan yang tertinggi di Indonesia. Secara nasional, angka kehamilan tidak diinginkan hanya 10,2 persen.  “Pada tahun 2017, Kalbar menempati peringkat pertama kehamilan tidak diinginkan,” kata Kusmana pada Pontianak Post, kemarin.

Kusmana mengungkapkan, penyumbang terbesar pernikahan dini Kalbar ada tiga daerah, yaitu Pontianak, Singkawang dan Sambas. “Angka pernikahan dini di tiga wilayah ini tinggi jika dibanding daerah lainnya,” ujarnya.

Berdasar hasil penelitian, penyebab utama pernikahan dini terjadi karena faktor ekonomi. Selain itu, minimnya aktifitas remaja membuat nikah muda kerap terjadi. Belum lagi penggunaan kemajuan teknologi ke hal negatif memicu terjadinya pernikahan usia muda.

Ditanya soal umur pernikahan usia dini, kata Uung, kasusnya ditemukan beragam. “Bahkan di bawah umur 15 tahun juga ada kasusnya. Kami terus melakukan filter salah satunya dengan memberi informasi konseling ditiap daerah,” katanya.

Akibat pernikahan dini ini, kasus kematian ibu yang melahirkan di usia muda juga banyak ditemukan. Penyebabnya, umur masih muda sehingga rahim si ibu belum siap untuk melahirkan. “Dalam upaya pengentasan kami sudah membentuk Kampung KB. Selain itu, sosialisasi terus dilakukan dengan menggandeng lintas sektoral. Semua dilakukan sebagai upaya cegah nikah dini,” katanya.

Sebenarnya kata Uung, sapaan Kusmana, dengan membuat kegiatan positif sebanyak mungkin itu bisa menekan pernikahan dini. Seperti memperbanyak kegiatan peningkatan skil kemudian para remaja mesti dipantau pendidikannya. Jangan sampai mereka justru putus sekolah. Jika pun kenyataannya putus sekolah, maka tindak lanjut pemerintah agar si remaja dapat melanjutkan sekolah mesti dilakukan.

Terpisah, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Perlindungan Anak Pontianak, Darmanelly justru menepis bahwa angka pernikahan dini di Kota Pontianak tinggi. “Memang di Kalbar penikahan usia muda tertinggi, tapi di Pontianak rendah,” katanya.

Dasarnya, lanjut dia, karena fasilitas pendidikan dan lapangan kerja di Pontianak banyak. Mengenai usia pas buat menikah sebaiknya pada 21 tahun. Kalaupun hamil, usianya sudah siap, sedangkan laki-lakinya ada di usia 25, karena di usia segitu, kebanyakan ekonominya sudah mulai mapan. Selain dari fisik sehat, biologis dan psikisnya juga sama.

Dalam kesempatan itu, dia juga menyarankan agar para remaja jangan lekas memutuskan buat nikah muda. Pendidikan jadi utama. Jika telah selesai SMA hendaknya dilanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Sama juga dengan perempuan hendaknya mengejar pendidikan setinggi mungkin. “Semua itu ada pengaruh dengan IPM.”

Terpisah, Anggota DPRD Pontianak, Amalia Atika, memandang, tingginya angka pernikahan usia dini tak terlepas dari faktor ekonomi. Akibat ekonomi rendah membuat keluarga menyegerakan menikahkan anak perempuannya agar orang tua tak lagi terbebani. “Faktor fasilitas pendidikan kurang membuat anak usia dini tidak bersekolah dengan semestinya. Bisa saja karena lokasi sekolah jauh dan faktor lain seperti cara pandang masyarakat yang mendoktrin bahwa perempuan harus menikah di usia dini karena jikalau di atas 20 tahun ke atas disebut oleh lingkungan sekitar perawan tua,” ungkapnya.

Tindakan tersebut membuat malu keluarga dan lain hal, kemudian kualitas layanan dan pendidikan kesehatan reproduksi minim membuat anak usia dini pada masa mencari jati diri yang memiliki keingintahuan tinggi mencoba melakukan segala sesuatu yang diketahuinya termasuk hubungan badan. Selain itu faktor lingkungan sosial anak tersebut sangat berpengaruh besar atas pernikahan dini berlangsung, misalnya lingkungan sekolah, bergaul di luar sekolah.

Ketidaksiapan mental, finansial, dan kematangan dalam berpikir dan kurangnya tanggungjawab dalam pernikahan tersebutlah, kata dia, membuat pernikahan dini mengambil jalan pintas dengan bercerai sehingga angka perceraian meningkat tiap bulannya bahkan tiap minggu dengan berbagai alasan.

“Menurut saya semua bisa dicegah asal orang tua mau menegaskan dan memberi arahan pada anak akan pondasi agama, pandangan tentang masa depan yang harus diraih, menjaga nama baik keluarga dan dampak buruk diterima jikalau menikah muda,” tutupnya

SumberPontianak Post
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini