Awas, Jambret Mengintai!

40
0
BAGIKAN

PONTIANAK – Kejahatan jalanan di Pontianak tidak henti-hentinya terjadi. Kasus penjambretan misalnya, sudah sering terjadi. Seperti dialami seorang gadis berusia 16 Tahun bernama Melanda baru-baru ini.

Melanda mengalami luka parah akibat sayatan senjata tajam saat mempertahankan telepon genggamnya yang dirampas, Sabtu 7/4).  Akibat peristiwa itu, Melanda menderita luka di kedua tangan. Pembuluh darah di tiga jarinya pun hampir putus. Saat ini, Melanda telah selesai menjalani operasi dan terbaring di ruang perawatan Rumah Sakit Antonius.

Perampasan yang dialami Melanda bermula saat ia berada di salah satu toko di Jalan Siam. Saat itu, ia sedang menunggu kedatangan bosnya kira-kira pukul 06.30. Ketika asyik memainkan HP-nya, datang dua orang yang bertanya alamat kepadanya. Setelah dijawab tidak tahu, kedua orang tersebut pergi.

Namun tak lama kemudian, dua orang yang menggunakan sepeda motor itu datang kembali. Seorang pria turun dari motor mengambil paksa telepon dan tas Melanda yang berisi dompet dan sejumlah kartu identitas. Sementara itu seorang lagi tetap di motor.

Tak terima harta bendanya dirampas, Melanda lalu mengejar pelaku dan nekat melawan. Nahas, ketika itu tangannya disayat pelaku menggunakan pisau. Ditolong warga, Melanda kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sayangnya di rumah sakit tersebut tidak ada dokter yang bisa menangani. Ia pun dibawa ke RS Antonius dalam kondisi sudah kehilangan banyak darah.

Gadis yang putus sekolah sejak kelas 2 SMP tahun lalu itu tidak memikirkan keselamatannya demi mendapatkan kembali HP miliknya. HP seharga dua jutaan rupiah itu belum lama ia beli dengan cara mencicil. “Saya beli cicil, makanya saya langsung mengejar penjambretnya,” kata dia.

Melanda pun semakin sedih karena di HP itu juga tersimpan foto neneknya. Sejak kecil, sepeninggal kedua orang tuanya, Melanda memang tinggal bersama sang nenek. Sebulan lalu, sang nenek yang berjasa mendidik dan membesarkannya itu pun dipanggil Tuhan untuk selama-lamanya. Foto di HP menjadi kenangan Melanda bersama sang nenek semasa hidup. Namun apa daya, foto itu turut hilang bersama hilangnya HP.

Banyak pihak yang prihatin atas kasus yang menimpa Melanda. Banyak pula yang mengalami kejadian serupa. Fadhil misalnya. HP milik siswa SMA ini pernah dirampas ketika pulang sekolah. Saat itu, Fadhil menelepon ibunya untuk minta dijemput.

Usai menelepon, tiba-tiba datang seorang tua yang menyatakan ingin meminjam HP. Alasannya untuk menelepon anaknya karena sedang tidak membawa HP. Tanpa rasa curiga, Fadhil pun mau saja meminjamkan HP-nya. Begitu HP diserahkan, pelaku tersebut langsung kabur. “Dia bilang mau pinjam HP sebentar,” sesal Fadhil.

Berdasarkan kasus-kasus yang telah terjadi, tergambar bahwa para pelaku perampasan sering mengincar anak muda dan perempuan, termasuk ibu rumah tangga. Modus yang dilakukan pun beragam. Karena itu, masyarakat harus lebih berhati-hati.

Seperti yang dialami oleh Sesilia. Perempuan ini harus merelakan telepon genggam kesayangannya yang dirampas penjambret. Kasus itu terjadi saat Lia, sapaannya, sedang bertamu di rumah seorang teman. Kala itu, pagar rumah temannya terkunci. Ia pun mengambil HP dan menelepon temannya minta dibukakan.

Saat berbicara dengan temannya itulah, tanpa disadarinya dua pelaku penjambretan datang dan merampas HP nya. “Terpaksa beli HP baru lagi,” tuturnya.  Belum lama ini, seperti diberikan Pontianak Post, perampasan HP juga menimpa salah satu murid SD Negeri 36 Pontianak Kota.

Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Muhammad Husni Ramli mengatakan, korban yang masih berusia delapan tahun itu sedang bermain telepon genggam di depan sekolah. Pelaku melancarkan aksinya dengan menemui korban dan menyampaikan ingin meminjam HP. “Korban saat itu tidak mau menuruti permintaan pelaku,” kata Husni.

Lantaran permintaannya tidak dituruti, pelaku lalu merampas HP korban dan langsung melarikan diri.  Aksi yang dilakukan pelaku itu, lanjut Husni, diketahui oleh warga sekitar. Oleh warga, ia kemudian dikejar dan berhasil ditangkap serta diserahkan kepada polisi.

“Selain pelaku, warga juga menyerahkan barang hasil kejahatan, yakni satu unit telepon genggam,” ucapnya.  Selain barang bukti hasil kejahatan, disita pula sebuah sepeda motor, yang digunakan pelaku untuk melancarkan aksinya. “Pengakuan pelaku baru pertama kali melakukan aksinya. Namun masih akan kami dalami dengan mengumpulkan laporan polisi yang masuk,” sambungnya.

Husni menegaskan, terhadap pelaku akan dikenakan pasal 362 dengan ancaman pidana penjara lima tahun. “Kami mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada terhadap aksi kejahatan yang dapat terjadi kapan pun. Jadilan polisi bagi diri sendiri,” pungkasnya.

Kerap Tak Lapor

Kejadian penjambretan yang dialami oleh gadis berusia 16 tahun, Melanda, bukanlah kali pertama terjadi di Kota Pontianak. Namun, para korban cenderung tidak mau melaporkan kasus yang menimpanya kepada polisi karena berbagai alasan. Fenomena ini pun mendapatkan tanggapan dari Ahli Hukum Pidana Universitas Tanjungpura, Hermansyah.

“Jumlah kasus penjambretan sulit untuk didata. Datanya tidak ada. Sebabnya tidak ada korban yang melapor,” ungkapnya saat ditemui Pontianak Post, Senin (9/4). Menurut Hermansyah, ada beberapa hal yang menyebabkan para korban enggan untuk melapor. Alasan pertama karena barang yang dicuri atau dijambret kemungkinan dinilai kurang berharga.

Adapun alasan kedua, korban penjambretan diancam pelaku agar tidak melaporkan ke pihak yang berwajib. Sedangkan alasan ketiga, kata dia, ada anggapan bahwa melaporkan ke polisi pada akhirnya tidak membuat barang yang hilang dapat kembali.“Para korban barangkali berpikir, kalau melapor pun sama saja. Barang juga tidak kembali,” ucapnya.

Padahal, kata Hermansyah, laporan oleh korban sangatlah dibutuhkan oleh pihak kepolisian. Sebab, dengan masuknya laporan-laporan, kepolisian dapat mengetahui informasi-informasi yang berkaitan dengan kejadian. Informasi tersebut akan memberikan data atau gambaran terkait lokasi serta modus yang digunakan para pelaku.

“Kepolisian bisa tahu lokasi-lokasi mana saja pelaku kerap beraksi. Modus-modus pelaku juga dapat diketahui. Dengan begitu, kepolisian bisa melakukan upaya preventif guna menekan angka kriminal, utamanya untuk kasus penjambretan,” paparnya.

Dia menambahkan, saat ini kasus-kasus kejahatan terus mengalami peningkatan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Menurutnya ada banyak faktor yang menyebabkan tindakan kriminal terjadi. Dari sisi pelaku, biasanya karena faktor ekonomi yang mendesak mereka berbuat kejahatan.

Sedangkan dari sisi korban, dapat dikarenakan si korban membuka ruang bagi pelaku untuk melakukan aksi kejahatannya. “Dari korban juga seharusnya mampu menjaga dan menghindari hal-hal yang dapat membuka peluang bagi pelaku untuk berbuat jahat. Masyarakat dalam hal ini harus lebih pintar, agar tindakan kejahatan tidak lagi terjadi,” pungkasnya.

Sementara itu Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Barat, Subhan Nur mengutuk keras tindakan pelaku kejahatan jalanan (street crime/jambret) yang belakangan sering terjadi di Kota Pontianak. Terlebih lagi pelaku sampai harus melukai korban dengan cara-cara keji dan tidak manusiawi.

Dia pun mendukung polisi untuk menindak tegas dan keras terhadap para pelaku. ”Tembak saja kalau pelaku diketahui merupakan residivis kambuhan. Kami support kepolisian. Kejahatan model begini sudah meresahkan masyarakat yang sudah aman dan damai ini,” tegasnya, Senin (9/4) di Pontianak.

SumberPontianak Post
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini