Islam di Pulau Maya Dibawa Seorang Nakhoda Kapal dari Brunei

13
0
BAGIKAN
MASJID NURUL HUDA: Masjid Nurul Huda yang terletak di Tanjung Satai, Kecamatan Pulau Maya ini merupakan masjid tertua. Usianya hampir sama dengan umur kemerdekaan RI

Perkembangan syiar Islam di Kabupaten Kayong Utara begitu terasa. Tidak hanya di wilayah perkotaan, tetapi juga di wilayah kepulauan. Salah satunya di Kecamatan Pulau Maya. Di pulau ini, masjid merupakan bangunan yang paling awal didirikan oleh para pendahulu.

PULAU Maya merupakan sebuah kecamatan yang terletak di sebelah barat Ibukota Kabupaten Kayong Utara. Pusat pemerintahan Kecamatan Pulau Maya terletak di Tanjung Satai yang termasuk dalam gugusan Pulau Maya. Di sana terdapat masjid tua, yang bernama Nurul Huda. Masjid ini usianya diperkirakan hampir sama dengan usia kemerdekaan republik Indonesia.

Masjid tersebut dibangun tepat di atas Bukit Satai, tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Satai. Untuk menuju ke kecamatan ini, ada dua alternatif transportasi yang bisa dipakai, yakni menyeberang menggunakan perahu lalu dilanjutkan dengan jalur darat atau menyeberang menggunakan kapal kelotok dan speed boat.

Kamis (31/5) pukul 14.30, saya berangkat ke Pulau Maya. Saya memilih menggunakan jalur darat. Untuk sampai di pusat pemerintahan kecamatan (Tanjung Satai) saya harus menempuh perjalanan kurang lebih lima jam menggunakan Vespa.

Jalan yang saya lalui pun cukup ekstrem. Sebagian masih berupa tanah liat dan sebagian lagi gambut. Jika turun hujan, mustahil jalur itu bisa dilalui dengan mudah. Setibanya di Tanjung Satai, saya pun disambut dengan suara pengajian yang kemudian disusul azan Isya’.

Tak berapa lama setelah tiba, saya pergi menemui beberapa tokoh masyarakat di sana. Di antaranya Sidiq (81) dan Murni (57). Menurut Sidiq, Masjid Nurul Huda dibangun pada tahun 1951.  Masjid ini merupakan masjid tertua kedua setelah Masjid Baburrahman yang terletak di Sukabaru, Desa Satai Lestari, Kecamatan Pulau Maya.

“Kalau tak salah ingat saya, masjid ini bangun tujuh tahun setelah Indonesia Merdeka dengan swadaya masyarakat,” kata Sidiq ditemui di rumahnya.

Masjid itu kemudian diresmikan oleh seorang tokoh agama dari Sukadana bernama H Abdurahman.  Sejak berdiri, masjid tersebut sudah dua kali renovasi. Namun renovasi yang dilakukan hanya sebatas perbaikan lantai dan atap.

“Sudah dua kali renovasi. Dulu yang renovasi pak Oesman (Oesman Sapta Odang),” katanya. “Dinding dan tiang utama masih asli. Terbuat dari kayu belian,” sambungnya.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Nurul Huda juga digunakan untuk aktivitas lain, seperti hadrah, jepin dan kegiatan keagamaan lainnya. Seiring perjalanan waktu, masjid itu berubah menjadi surau karena warga Tanjung Satai telah memiliki masjid megah bernama Masjid Nurul Bariah.

Sementara menurut Murni, Islam pertama kali masuk ke Pulau Maya dibawa oleh seseorang yang berasal dari Brunei Darussalam. Ia adalah seorang nakhoda kapal bernama Uyuk Sa’ban.

“Menurut cerita, Desa Tanjung Satai ini berawal dari tahun 1801 ketika seorang nahkoda kapal bernama Uyuk Sa’ban datang ke sini dari pantai Kuala Nipah Kuning, Telok Melano,” katanya.

Mereka berlayar menuju selatan Pulau Maya Karimata. Dengan keberanian yang kuat, sampailah mereka di Telok Sukun. Saat itu Uyuk Sa’ban tidak menetap, tetapi pulang lagi ke Nipah Kuning.

“Barulah sekitar 1815- 1816 Uyuk Sa’ban berniat mendirikan sebuah perkampungan di dekat Gunung Satai. Ia menebang kayu sekaligus berkebun,” paparnya. Sekitar 1817, Uyuk Sa’ban kemudian membawa anak dan istrinya menetap di Tanjung Satai. Awal yang mereka dirikan adalah sebuah masjid yang kini dikenal dengan nama Masjid Baburrahman, Sukabaru, Desa Satai Lestari.

Uyuk Sa’ban mempunyai 12 anak. Empat orang lelaki dan delapan perempuan. Seiring pendirian kampung oleh keluarga Uyuk Sa’ban, orang-orang mulai berdatangan ke Tanjung Satai. Bahkan ada juga yang datang dari Kampung Temiang Galang, sebuah perkampungan di Sulawesi Selatan yang terkenal dengan perompak.

Roda waktu pun berputar. Lantaran memiliki keluarga yang besar, anak dan menantu Uyuk Sa’ban lalu menyebar ke berbagai belahan Pulau Maya Karimata. Belakangan mereka mendirikan perkampungan sendiri, seperti Parit Limau manis dan Desa Pintau.  Perkampungan tersebut dibuka anaknya bernama Deraman.

Sementara Desa Sukabaru dibuka oleh menantunya Bungsu. Parit Kali satu dan Parit Timur dibuka oleh Bujang Sengat. Sedangkan untuk Desa Kemboja dibuka oleh Matjan sekitar tahun 1925.

Di tahun 1968, Tanjung Satai ditetapkan menjadi ibu kota kecamatan di bawah Pemerintahan Kabupaten Ketapang dan akhirnya pada tahun 2007 bergabung di bawah Kabupaten Kayong Utara. Sejak pertama menjadi kecamatan, wilayah ini sudah dipimpin 15 camat. (**)

SumberPontianak Post
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini