Kakek Juhri, 30 Tahun Mengajar Ngaji Tanpa Imbalan

47
0
BAGIKAN

Di zaman modern seperti sekarang ini, kebutuhan manusia semakin bertambah. Pertumbuhan ekonomi di daerah pun menggeliat tumbuh, mengubah tak sedikit manusia menjadi materialistis. Namun, semua seakan tak menyentuh kehidupan Juhri, seorang kakek sederhana yang telah 30 tahun berprofesi sebagai guru ngaji tanpa imbalan sepeser pun.

Juhri merupakan lelaki berusia 77 tahun. Di kampung tempatnya tinggal, dia kerap dipanggil ‘kakek’ atau ‘datok’ oleh anak-anak di sekitar tempatnya tinggal.

Juhri tinggal di rumah kecil tepat di pinggir Jalan Parit Haji Yacob di Wajok Hilir. Dinding rumahnya seakan ikut menua bersama dirinya. Cat yang terkelupas menjadi bagian dekorasi dari rumahnya.
Saat masuk ke dalam rumahnya, keadaan tak begitu berbeda. Lantai papan bertatapan langsung dengan atap seng di atasnya tanpa batas. Tak ada kursi tamu atau meja untuk menghidangkan minuman. Yang ada hanya sebuah tikar dari daun pandan air dan lemari yang sudah tua.
Al quran yang sudah usang diletakkan dipojok rumah, diatas sebuah papan yang berfungsi sebagai rak buku. Meski usang, Al quran ini tetap digunakannya sebagai bahan mengajar.

Setiap sore, rumah Juhri selalu dipenuhi anak-anak berusia tiga hingga belasan tahun. Mereka belajar mengaji setiap hari tepat selesai sholat ashar. Murid-murid Juhri sudah mengalami regenerasi dari waktu ke waktu. Muridnya yang sekarang, merupakan anak dari murid yang sebelumnya.

Pontianak Post bertemu dengan Holis, salah satu murid Juhri. Holis yang kini telah mempunyai anak, mempercayakan Juhri untuk mengajar anaknya. “Murid kakek Juhri dari berbagai generasi, orangnya enak, hampir semua anak di kampung sini belajar dengan kakek Juhri,” kata Holis.

Juhri konsisten mengajar ngaji sejak masih muda. Muridnya sudah ratusan orang. Dulu dia tinggal di Kota Pontianak, baru 15 tahun terakhir dia memilih untuk menetap di Wajok. Juhri mengaku ikhlas tidak dibayar atau menerima imbalan. Untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya, Juhri diberi oleh anak-anaknya.

“Anak-anak saya sering datang ke rumah untuk mengantar makanan. Meski tak banyak, namun cukup untuk saya makan sehari-hari,” ungkap Juhri saat ditemui di rumahnya. (ndo)

Sumber : Pontianak Post

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini