Kalbar Dikepung Asap, Negara Tetangga Mulai Protes

13
0
BAGIKAN
KABUT ASAP: Sebuah pesawat melintas di tengah kabut asap di wilayah Kubu Raya, kemarin. Banyaknya kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kabut asap kian menebal. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Kalimantan Barat dikepung  asap dari berbagai penjuru. Sebanyak 14 kabupaten/kota dipapar asap akibat kebakaran lahan dan hutan sepanjang hari kemarin. Berdasarkan data peta sebaran hotspot Kalbar dari Satelit Lapan diketahui bahwa jumlah hotspot di Kalbar mencapai 786 titik. Titik panas ini tersebar di semua semua kabupetan-kota di provinsi ini. Terbanyak berada di wilayah Sanggau dengan jumlah 148 titik panas. Di urutan kedua adalah Landak dengan jumlah 121 titik panas.

Kebakaran hutan dan lahan di Kalbar menyebabkan kabut asap kian pekat. Terutama di malam hari. Bahkan wilayah Sarawak, Malaysia dikabarkan menerima dampak dari kebakaran hutan dan lahan di Kalbar.

Salah satu anggota DPRD Kalbar, Subhan Nur mengatakan warga Malaysia mulai memprotes datangnya kabut asap dari wilayah Indonesia. Hal itu diketahui Subhan usai bertandang ke Malaysia. “Saya dengar sendiri dari pembicaraan masyarakat di warung-warung kopi di sana. Saya barusan pulang dari sana,” katanya baru-baru ini di Pontianak seusai berobat dari Malaysia.

Menurut dia masyarakat Malaysia mulai khawatir terhadap alam Kalimantan Barat (Indonesia) yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia. Penyebabnya karena Kalbar sebagai daerah khatulistiwa tidak turun hujan sudah sepekan lebih. Titik api muncul sampai mengakibatkan bencana kabut asap.

“Perlahan-perlahan asap menyebar kemudian mulai lari ke wilayah negara tetangga. Jelas saja warga mereka protes, meski tak semua wilayah,” ucapnya.

Kebakaran hutan dan lahan di Kalbar terjadi di sejumlah wilayah. Salah satunya di Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah. Kemarin, kebakaran di wilayah ini terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mempawah memperkirakan lebih dari 100 hektare hutan telah hangus terbakar. Petugas harus berjibaku memdamkan titik api.

“Kami terus berupaya memadamkan titik api di Desa Bukit Batu. Memang saat ini, kobakaran api cukup sulit dipadamkan. Sebab, sebarannya semakin meluas,” aku Kepala Bidang Penanggulangan Bencana, BPBD Kabupaten Mempawah, Didik Sudarmanto, Rabu (15/8) siang.

Didik memastikan pihaknya telah mengerahkan seluruh kemampuan dan fasilitas yang dimiliki untuk memadamkan kebakaran lahan di Desa Bukit Batu. Hanya saja, kondisi kebakaran yang semakin parah membuat upaya pemadaman secara manual sulit dilakukan.

Belum turunnya hujan menyebabkan wilayah Kalbar masih berpotensi terjadi kebakaran hutan dan lahan dalam beberapa hari ke depan . Berdasarkan prediksi BMKG Supadio beberapa daerah perlu diwaspadai karena rentan terjadi karhutla. Yakni Kabupaten Bengkayang, Landak, Sanggau, Sekadau, Ketapang, Melawi, Sintang dan Kabupaten Kapuas Hulu.

Kondisi kualitas udara juga mulai tidak sehat. Misalnya seperti terpantau di Stasiun Klimatologi Mempawah Kalimantan Barat Selasa(14/8). Prospek curah hujan diprakirakan masih berkurang hingga akhir dasarian 2 bulan Agustus 2018. Dasarian adalah satuan waktu meteorologi yang lamanya adalah sepuluh hari.

Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker dan minum air putih yang cukup agar terhindar dari gangguan kesehatan. “Waspada gangguan pernafasan,” ujar Kepala Stasiun Klimatologi Mempawah Wandayantolis dalam rilisnya.

Konsentrasi Particulate Matter (PM10) yang dianalisis berdasarkan pantauan alat kualitas udara di Stasiun Klimatologi Mempawah tertinggi sebesar 152.17 µg/m3 terjadi pada pukul 10.00 WIB masuk dalam kategori tidak sehat.

Pengamatan visibility maksimum tercatat 100 m hingga 1km. Seperti diketahui bahwa beberapa minggu terakhir curah hujan di wilayah Kalimantan Barat berada pada kategori bawah normal, sehingga jumlah titik panas semakin meningkat. Kualitas udara yang tidak sehat dapat mengganggu kesehatan terutama pernafasan.

Perlu Sosialisasi 

Kebakaran hutan jelas merugikan masyarakat. Karena itu masyarakat harus diberi pemahaman agar tidak membakar lahan. Sosialisasi harus terus dilakukan. Seperti di Kabupaten Kubu Raya beberapa kelompok tani mulai memahami bagaimana menjaga lingkungan dengan tidak membakar pada musim begini.

”Kami selalu sosialisasikan ke petani dan kelompok tani. Jangan buka lahan dengan cara membakar, meski aturan membolehkan maksimal dua hektare. Hanya terkadang menjaganya susah hingga berakibat lahan lain terbakar,” tutur Tajudin, Kepala Desa Limbung, Kubu Raya di Sungai Raya.

Menurutnya para kepala dusun, RT/RW di lingkungannya sudah memahami bagaimana menjaga lahan garapan pertanian dan perkebunan. Sebab sepanjang tahun, sosialisai dari dinas teknis terus dilakukan. Umumnya pada musim pengering begini, petani tak dianjurkan membuka lahan. ”Takutnya masih pakau cara lama. Bakar kemudian dibiarkan. Nanti repot memadakam lalu berurusan dengan aparat. Kasihan mereka (petani), kita anjurkan jangan sampai ada buka ladang dengan membakar. Bajak saja dengan cangkul,” ujarnya.

Senada dengannya, Idris (44), petani asal Desa Arang Limbung, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya untuk sementara waktu menghentikan aktivitas bertaninya. Dia tidak berani membuka lahan pada musim pengering seperti begini. Sebab resiko gagal tanam dan panen, juga hitungan kerugian bibit padi sudah berada di depan mata.

”Mana ada petani yang berani. Kawan-kawan saya saja “ngendon” (tinggal) di dalam rumah.  Mereka hanya ke ladang, melihat-lihat apakah lahannya ada terbakar atau dibakar. Kami juga menjaga lahan kami, ditengah ketiadaan air pada musim begini,” katanya.

Idris berharap masalah kebakaran lahan atau hutan jangan terus petani dipojokan. Masalahnya, sosialisasi dari desa bahkan pemerintah daerah setempat selalu dilakukan sepanjang tahun. ”Kami pasti patuh. Ada resiko hukum jika kami bandel. Nah pertanyaannya kenapa muncul karhutla sampai asap mengepul ke atas. Ini karena musim kering begini, lahan kering seperti menjadi bensin penyulut,” ujarnya.

Munculnya kabut asap akibat karhutla ternyata membuat masyarakat pelaku usaha juga merasa ketakutan. Sebab banyak kerugian akan ditanggung Kalbar, jika asap berlangsung lama. ”Mana ada yang mau berkunjung ke Kalbar, jika kabut asap muncul. Usaha kepariwisataan pasti akan terganggu. Namanya datang ke daerah dengan asap berarti mencari penyakit,” kata Andri, pemilik usaha travel wisata di Kubu Raya-Mempawah.

SumberPontianak Post
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini