Pengamat : Midji-Norsan Unggul

16
0
BAGIKAN
DEBAT PILKADA: Tiga pasang calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar mengikuti debat publik di Hotel Kapuas Palace, Sabtu (7/4). Debat perdana ini bertemakan Meningkatkan Kesejahteraan dan Pelayanan Publik.

Dinilai Lebih Realistis Soal Isu Kesejahteraan dan Pelayanan Publik

PONTIANAK  –  Debat Pertama Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Kalimantan Barat (Kalbar), Sabtu (7/4) berlangsung alot. Aula Hotel Kapuas Palace menjadi saksi digelarnya debat yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalbar itu.

Tema yang diangkat kali ini adalah Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dan Pelayanan Publik. Sesi pertama debat tersebut diisi dengan pemaparan visi dan misi oleh ketiga paslon. Masing-masing paslon mendapatkan jatah selama dua menit.

Paslon nomor urut satu, Milton-Boyman menyampaikan pentingnya melakukan penataan dan pembangunan infrastruktur, serta peningkatan pembangunan ekonomi berbasis sumber daya alam.

“Kami mendorong pembangunan ekonomi berbasis sumber daya alam, mulai dari pertanian, perikanan, peternakan, dan kelautan, serta meningkatkan pembangunan berbasis kerakyatan,” papar paslon nomor urut satu itu.

Adapun paslon nomor dua, Karolin-Gidot memaparkan tentang pentingnya pembangunan infrastruktur dan sumberdaya manusia. “Bertumpu pada pembangunan infrastruktur yang merata, serta pembangunan sumberdaya manusia, dengan menghadirkan akses pendidikan yang berkualitas, serta mengoptimalkan pelayaan publik yang transparan,” jelas paslon urut dua.

Sedangkan paslon nomor tiga, Sutarmidji-Ria Norsan memaparkan sejumlah permasalahan daerah yang tercermin dari Angka IPM (Indeks Pembangunan Manusia) serta kemiskinan. Pasangan ini pun berkomitmen untuk mendongkrak angka IPM serta memberantas kemiskinan dengan sejumlah kebijakan yang ditawarkan.

“Kita percepat pembangunan infrastruktur dan mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, mendorong pemekaran provinsi, mengurangi angka kemiskinan, serta mengoptimalkan layanan kesehatan,” papar paslon nomor urut tiga.

Adapun sesi dua dan tiga yakni pendalaman visi dan misi dari ketiga paslon. Paslon nomor urut satu, Milton-Boyman saat disinggung tentang Angka Partisipasi Sekolah (APS) dan angka buta huruf, pasangan ini menawarkan dua solusi.

“Pertama kita akan data daerah mana saja yang butuh perhatian khusus terkait hal ini. Dengan begitu, di daerah tersebut akan kita fokuskan pada pemberantasan buta huruf dan peningkatan APS. Sedangkan yang kedua adalah mewujudkan percepatan Provinsi Kapuas Raya, sehingga pembagian tugas akan lebih mudah,” jelasnya.

Paslon dua, Karolin-Gidot saat ditanya mengenai angka kematian bayi dan ibu di Kalbar yang masih lebih tinggi di atas rata-tata nasional, memberikan solusi pelayanan yang optimal bagi ibu hamil. “Kita hadirkan rumah singgah bagi ibu untuk memberikan pelayaan persalinan yang baik, sehingga risiko kematian dapat ditekan,” jawabnya.

Sedangkan paslon nomor tiga, Sutarmidji-Ria Norsan ketika ditanya terkait permasalahan IPM, memberikan solusi peningkatan layanan kebutuhan dasar, seperti pendidikan dan kesehatan. “IPM kita di urutan 29. Artinya ada masalah di pendidikan dan kesehatan. Untuk itu, kita tawarkan program pendidikan yang inovatif, salah satunya melalui penguatan SMK. Begitu pun dengan pelayanan rumah sakit juga jadi perhatian utama,” paparnya.

Dalam sesi keempat, masing-masing paslon diperkenankan saling bertanya antara satu dengan yang lain. Sesi ini berlangsung agak panas. Ketiga pasangan terkesan saling serang dan mencari celah dari para rival politik. Paslon nomor urut satu, Milton-Boyman dicecar dengan pertanyaan tentang pembentukan Provinsi Kapuas Raya yang dianggap gagal oleh Paslon nomor urut tiga, Sutarmidji-Ria Norsan.

Menanggapinya, Milton-Boyman membantah dengan tegas. “Kapuas Raya tidak gagal. Itu hanya opini sementara, sebab sudah jadi amanah presiden,” jawabnya. Paslon nomor urut dua, Karolin-Gidot menyinggung paslon nomor urut tiga, Sutarmidji-Ria Norsan dengan isu perbatasan. Menanggapinya, paslon nomor tiga menilai perlu adanya koordinasi yang kuat dari pusat, sebab perbatasan menjadi salah satu titik pembangunan. “Kami ingin pembangunan berkeadilan, semua kami perhatikan,” katanya.

Sedangkan paslon nomor urut satu, Milton-Boyman mempertanyakan soal bagaimana penunjukan pejabat SKPD (satuan kerja perangkat daerah) di lingkungan Pemprov Kalbar kepada paslon dua, Karolin-Gidot. Dalam kesempatan ini, Karolin-Gidot membantah adanya rumor keberpihakan pada satu golongan tertentu.

“Itu hanya rumor. Pimpinan SKPD berasal dari semua golongan, lintas suku dan agama. Semuanya pasti ada tahapan seleksi,” ujarnya.

Adapun dalam sesi kelima, dipaparkan tentang permasalahan gizi kurang atau stanting. Paslon nomor urut satu, Milton-Boyman berjanji akan meningkatkan pelayanan posyandu.

Paslon dua, Karolin-Gidot menawarkan kampung KB yang mengarah pada pencegahan dan pemberantasan stanting. Sedangkan paslon nomor urut tiga, Sutarmidji-Ria Norsan menawarkan program untuk mewujudkan sanitasi yang sehat, pemantauan kesehatan ibu hamil, serta menggalakkan olahraga.

Pengamat Nilai Midji Unggul

Dalam debat ini, pasangan Sutarmidji-Ria Norsan dinilai unggul. Hal tersebut disampaikan Ali Nasrun, pengamat ekonomi dari Universitas Tanjungpura.

Ia menjelaskan, dalam hal pemaparan masalah dan solusi yang ditawarkan, pasangan nomor urut tiga itu lebih unggul dibanding pasangan lainnya. “Iya, paslon nomor tiga unggul dalam debat tadi. Secara keseluruhan materi dan pemecahan masalah, pasangan nomor tiga unggul dibanding paslon lain,” jelas Ali.

Penyampaian program Midji-Norsan terkait persoalan air bersih dan gizi buruk dinilai sangat tepat sasaran.  Pemaparan pasangan nomor urut tiga tentang peningkatan pelayanan publik di bidang kesehatan juga terarah, misalnya dengan mencanangkan rumah sakit tanpa kelas.

“Iya, saya lihat solusi yang diberikan di bidang kesehatan juga baik, seperti rumah sakit tanpa kelas. Saya rasa dengan pemetaan masalah yang baik serta solusi yang diberikan juga sejalan. Jadi selaras antara masalah dengan solusi,” jelasnya.

Sebagai seorang akademisi, Ali berpendapat, jika dibandingkan dengan pasangan lain, pasangan Midji-Norsan lebih mampu memaparkan program yang realistis. Pemetaan masalahnya pun dipandang terarah. Dengan pemetaan masalah yang tepat maka penempatan program dapat dilakukan dengan tepat pula.

“Pasangan nomor satu, programnya juga baik, tapi kurang realistis seperti hanya wacana. Paslon dua kurang tepat sasaran karena hanya bahas SDM, padahal ini harusnya bahas cara meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan publik. Kalau pasangan nomor tiga, itu tepat sasaran. Pemetaan masalahnya jelas dan terarah, sehingga penempatan programnya tepat,” jelas Ali.

Dengan pemaparan program yang terarah dan tepat sasaran serta pemecahan masalah yang disampaikan dengan baik oleh paslon nomor urut tiga, Ali menilai pasangan Sutarmidji dan Ria Norsan paling menonjol pada debat kali ini.

” Kalau saya lihat pasangan Sutarmidji dan Ria Norsan ini paling menonjol pada debat kali ini. Pemecahan masalah paslon nomor tiga sangat memberikan solusi,” terangnya.

Tidak hanya Ali Nasrun, hal senada juga disampaikan oleh Aswandi, pengamat pendidikan dari Universitas Tanjungpura. Menurutnya, penyampaian dengan data yang disampaikan pasangan nomor urut tiga, Sutarmidji dan Ria Norsan menggambarkan bahwa pasangan ini mengerti secara riil kondisi di Kalimantan Barat.

“Pasangan calon nomor urut tiga sangat bagus, karena menggunakan data yang jelas dan akurat. Seperti di bidang pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Penyampaian program dengan pemanfaatan IT sangatlah tepat sasaran,” jelas Aswandi, pengamat pendidikan. (sti)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini