Polda Tahan 14 Pembakar Lahan

7
0
BAGIKAN
Salah satu kompleks perumahan di Pontianak Tenggara nyaris terbakar beberapa waktu lalu. Menurut data Polda Kalbar, sebagian besar kebakaran lahan di Kalbar terjadi karena kesengajaan. Sejumlah orang telah ditahan karena melakukan pembakaran lahan.

Kebakaran hutan dan lahan sebagian besar terjadi karena unsur kesengajaan. Para pembakar lahan menanam benih dosa. Mereka membuat orang lain tersiksa melalui asap berbahaya yang dihasilkannya.

Kapolda Kalbar Irjen Pol Didi Haryono menyatakan, polisi akan bertindak tegas pada para pembakar hutan dan lahan. Para pembakar lahan dijerat pidana.

Sejauh ini, polisi telah menahan sejumlah orang yang diduga melakukan pembakaran hutan dan lahan. Menurut data Polda Kalbar, jumlah kasus yang ditangani secara keseluruhan sampai 24 Agustus 2018 sebanyak 19 laporan polisi. Dari kasus tersebut, polisi telah menetapkan 26 orang sebagai tersangka. “Rinciannya 14 ditahan, dua orang meninggal dunia di lokasi kebakaran lahan. Sementara itu, 10 orang yang telah diperiksa tidak ditahan,” tutur Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, Inspektur Jenderal Didi Haryono.

Belum lama ini, Polresta Pontianak kembali menetapkan dua tersangka baru kasus pembakaran lahan. Kasat Reskrim Polresta Pontianak Kompol M Husni Ramli mengatakan, untuk kasus karhutla yang ditangani Polresta Pontianak saat ini ada empat kasus. Dua kasus sebelumnya sudah masuk pada tahap I di tingkat kejaksaan.

“Untuk kasus Karhutla ini ada empat perkara. Dua perkara sebelumnya sudah masuk tahap I di tingkat kejaksaan, tinggal menunggu kabar dari JPU,” Kasat Reskrim Polresta Pontianak M Husni Ramli, kemarin.

Dikatakan Husni, dua perkara baru yang tengah ditangani ini berada di dua lokasi yang berbeda, yakni di Desa Punggur Besar, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya dan Jalan Wonodadi 2, Kabupaten Kubu Raya.

Di mana pihaknya menetapkan dua orang tersangka, Surai, warga Jalan Petani Gang Umar Jamul, Kelurahan Sungai Jawi, Pontianak Kota dan Agus Abulaik, warga Jalan Wonodadi 2, Desa Arang Limbung, Kabupaten Kubu Raya.

“Tersangka Surai diamankan pada 21 Agustus 2018, sedangkan Agus diamankan pada 23 Agustus 2018,” kata Husni.

Husni menjelaskan, untuk kasus Karhutla di Desa Punggur Besar, tersangka Surai diketahui telah membuka lahan dengan lebar 50 Meter dengan panjang 500 Meter untuk bercocok tanam dengan cara dibakar.

Awalnya pada tanggal 1 Agustus 2018, tersangka selaku pemilik lahan menyuruh beberapa warga untuk menebas rumput di lahan miliknya dengan ongkos setiap hari Rp50.000 per orang selama empat hari. Selanjutnya pada hari Rabu (15/8) sekira jam 15.00 Wib, tersangka membakar lahan yang sudah ditebas.Setelah lahan terbakar, tersangka menyuruh warga untuk menjaga api supaya api tidak merambat ke lahan milik orang lain.

Namun api semakin membesar dan tidak bisa dikendalikan, sehingga api merambat ke lahan disekitarnya, termasuk lahan yang sudah ditanami sawit seluas 5 hektare, dengan kerugian Rp1, 5 miliar.

“Total luasan lahan yang terbakar mencapai 30 hektare,” jelas Husni.

Sedangkan kasus kebakaran lahan yang menjerat tersangka Agus, lanjut Husni, berlokasi di Jalan Wonodadi 2, kecamatan Sungai Raya.

Dikatakan Husni, tersangka Agus membuka lahan dengan tujuan untuk bercocok tanam jagung dan nanas, dengan cara menebas semak dan rumput menggunakan alat tajak. Kemudian setelah rumput dan semak kering, tersangka membakarnya.

Pada saat api membesar, tersangka berusaha memadamkan api, namun tidak bisa padam, karena lahan gambut. Pada 22 Agustus 2018 sekira 13.00 Wib, tersangka dihubungi istrinya dan diberitahu, api menyala kembali dan merambat ke areal lahan yang di sekitarnya mencapai sekitar 5 hektare.

Dari empat kasus itu, lanjut Husni luasan lahan yang terbakar mencapai 45 hektare. Di mana, kata Husni, kasus kebakaran lahan sebelumnya mencapai 10 hektare.

Terkait dengan adanya indikasi oknum yang menyuruh membakar lahan, lanjut Husni, pihaknya masih melakukan pendalaman. Dia mencontohkan pada kasus kebakaran lahan yang berada di wilayah Pontianak Utara. Dari pemeriksaan hingga saat ini, tersangka dibayar untuk mengelola lahan, namun tersangka mengambil jalan pintas untuk melakukan pembakaran.

Sehingga pemeriksaan terhadap pemilik lahan masih di dalami.

Dalam kasus itu, tersangka dibayar oleh pemilik lahan sebesar Rp10 juta untuk mengelola lahan. Dari membuka sampai membuat bedeng untuk menanam sayur.

“Untuk menyingkat proses pembukaan lahan, tersangka justru membuka lahan dengan cara membakar. Setelah membakar, ditinggal. Setelah sore hari kebakaran sudah meluas,” paparnya.

Pelaku diancam dengan pasal 108 jo Pasal 69 ayat (1) huruf h Undang Undang Nomor 32 rahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan atau pasal 187 KUHP dengan ancaman pidana minimal 3 tahun.

Sebelumnya, Kapolda Kalbar Irjen Pol Didi Haryono mengatakan, pihaknya mengamankan sebanyak 14 orang tersangka di seluruh Kalbar.

“Kepada pelaku-pelaku, mohon ini benar-benar disikapi, karena ada aturan-aturan yang mengatur tentang karhutla ini,” katanya.

Setidaknya ada tiga instrumen hukum yang dapat menjerat pelaku, mulai dari pengelolaan lingkungan hidup, kehutanan dan perkebunan.

“Inilah yang menjadi landasan atau instrumen kami untuk melakukan tindakan tegas, dalam arti penegakkan hukum, setidaknya penegakkan hukum untuk memberikan efek jera, bahwa membakar hutan dengan sembarangan itu dilarang,” jelasnya.

Selain memberikan dampak terhadap kesehatan, kebakaran juga mengganggu keseimbangan ekosistem yang ada, begitu pula dampak ekonomi, karena akan mempengaruhi kebutuhan pokok hidup manusia serta meningkatkan dampak inflasi.

Karhutla juga dapat mengganggu penerbangan udara, transportasi laut dan darat. Untuk itulah, penegakkan hukum terhadap pelaku Karhutla harus ditegakkan. “Yang paling cepat adalah aspek kesehatan dan pendidikan,” ujarnya.

Sementara itu Panglima Kodam XII/Tanjungpura, Mayor Jenderal TNI Achmad Supriyadi mengatakan salah satu sumber asap yang menyelimuti Kota Pontianak dan sekitarnya adalah berasal dari daerah Dusun Sido Mulyo, Desa Limbung, tepatnya di belakang Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya.

Pangdam pun terjun langsung ke lapangan membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Saya akan berusaha meminimalisir seluruh asap-asap yang ditimbulkan oleh Karhutla ini sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitasnya dan dapat bernafas dengan lega,” tegas Panglima Kodam XII/Tpr, Mayor Jenderal TNI Achmad Supriyadi, Sabtu (25/08).

Supriyadi juga menyatakan, kabut asap yang merupakan dampak dari bencana Kebakaran Hutan dan Lahan sampai saat ini sangat luar biasa dan cukup luas. Bahkan menyebabkan lumpuhnya beberapa aktivitas masyarakat dan juga jalur penerbangan di Bandara Internasional Supadio.

Sementara untuk titik api (hotspot) di wilayah Dusun Sido Mulyo saat ini sudah tidak ada lagi, namun asap yang dihasilkan bekas kebakaran hutan dan lahan masih banyak. Dia mengimbau kepada para Komandan Satuan agar bekas-bekas kebakaran dituntaskan dan memaksimalkan water bombing. “

Titik api sudah tidak ada, tapi bekas-bekas kebakaran yang menyebabkan tebalnya asap ini harus diselesaikan hari ini,” pungkas Supriyadi. (arf/mrd)

SumberFP Kalimantan Barat Informasi
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini