PELATIHAN PENGELOLAAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN KONSERVASI SATWA LIAR BAGI LEMBAGA PENGELOLA HUTAN DESA

Tropenbos Indonesia difasilitasi oleh UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan telah melakukan kegiatan “Pelatihan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati dan Konservasi Satwa Liar Bagi Lembaga Pengelola Hutan Desa”. Kegiatan pelatihan ini selenggarakan selama dua hari pada tanggal 8 – 9 Juli 2024. Lokasi penyelenggaraan kegiatan pada hari pertama diselenggarakan di Hotel Nevada dan pada hari kedua dilanjutkan praktek inventarisasi keanekaragaman hayati di Hutan Desa Sungai Besar. Kegiatan pelatihan dihadiri sebanyak ………… orang yang merupakan perwakilan dari UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Polsek Matan Hilir Selatan, Danramin Matan Hilir Selatan, Pemerintah Desa Sungai Pelang, Pemerintah Desa Sungai Besar, Pemerintha Desa Sungai Besar, LPHD Desa Sungai Besar, LPHD Sungai Pelang, LPHD Pematang Gadung, LPHD Pangkalan Telok, regu pemadam, tim patroli LPHD Sungai Besar.


Kegiatan pelatihan dibuka oleh Kepala UPT Wilayah Ketapang Selatan yaitu Bapak Kuswadi, SP. Pada pidato pembukaan, beliau menekankan bahwa pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati yang ada di dalam hutan desa. Pengelolaan hutan desa tidak terlepas dari pengelolaan aspek keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna. Namun demikian, LPHD perlu mengumpulkan data dan informasi tentang jenis-jenis keanekaragaman hayati yang ada di dalam hutan desa. Pengumpulan data keanekaragaman hayati ini perlu didukung dengan teknik dan metode pengambilan data yang dapat dipertanggung jawabkan hasilnya.


Kegiatan pelatihan pengelolaan keanekaragaman hayati dan konservasi satwa liar bagi lembaga pengelola hutan desa dilakukan dengan maksud dan tujuan untuk: i) peserta memahami pentingnya keanekaragaman hayati dan satwa liar di habitatnya; ii) peserta memahami sistem dokumentasi keanekaragaman hayati; iii) peserta memahami teknik pengelolaan keanekaragaman hayati dan konservasi satwa liar; iv) peserta mampu menyusun rencana pengelolaan keanekaramagam hayati dan konservasi satwa liar; dan v) peserta mampu menerapkan/mengaplikasikan rencana pengelolaan keanekaragaman hayati dan konservasi satwa liar di masing-masing LPHD.


Narasumber yang mengisi pelatihan ini berasal dari Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), Balai Konservasi Satwa Sumber Daya Alam (BKSDA) dan UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan. Masing-masing narasumber menyampaikan materi sesuai dengan tugas dan fungasi pada masing-masing instansi. Kegiatan pelatihan pada hari pertama BKSDA menyampaikan materi tentang dasar-dasar konservasi sumber daya alam dan ekosistem; kemudian dilanjutkan materi yang disampaikan oleh TNGP tentang teknik pengenalan jenis tumbuhan dan satwa liar dan teknik survei pengambilan data tumbuhan dan satwa liar; dan pada materi terakhir disampaikan oleh UPT KPH Wilayah Ketapang Selatan tentang peran KPH dalam pengelolaan kawasan hutan. Setelah masing-masing pemateri menyampaikan paparan materi kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab kepada peserta pelatihan.


Kegiatan pelatihan pada hari kedua didampingi oleh narasumber dari TNGP melakukan praktek bersama peserta pelatihan melakukan praktek inventarisasi keanekaragaman hayati. Pada kegiatan praktek hari kedua ini, semua peserta diberikan pengarahan oleh Tropenbos Indonesia dan narasumber dari TNGP bahwa dalam praktek ini semua peserta akan dibagi kedalam dua kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 9 – 10 orang. Kelompok 1 terdiri dari LPHD Sungai Pelang dan LPHD Pangkalan Telok dan kelompok 2 terdiri dari LPHD Sungai Besar dan LPHD Pematang Gadung. Masing-masing kelompok mempersiapkan taly sheet dan tali tambang untuk membuat jalur dan petak/plot pengukuran keanekaragaman hayati.


Pada praktek ini, masing-masing kelompok diminta untuk membagi tugas pada masing-masing anggota kelompoknya. Tugas masing-masing anggota terdiri dari: i) pencatat hasil pengukuran; ii) pengukur keliling pohon; iii) pengenal jenis tumbuhan; iv) pembut jalur penelitian; dan v) pemasang plot pengukuran. Plot pengukuran terdiri dari 4 sub petak pengukuran yaitu: i) sub petak ukuran 2 x 2 meter untuk pengamantan jenis tingkat semai; ii) sub petak ukuran 5 x 5 meter untuk pengukuran tingkat pancang; iii) sub petak ukuran 10 x 10 meter untuk pengukuran tingkat tiang; dan v) sub petak ukuran 20 x 20 meter untuk pengukuran tingkat pohon.
Masing-masing kelompok membuat 1 jalur pengamatan dan di dalam jalur kemudian dibuat 2 petak contoh untuk pengukuran dan pengamatan keanekaragaman hayati. Setelah peserta membuat jalur dan petak contoh, masing-masing kelompok kemudian mulai melakukan inventarisasi jenis dan jumlah individu yang masuk di dalam sub petak contoh tersebut. Setelah peserta mengumpulkan data di lapangan, kemudian dilakukan diskusi dan menyampaikan hasil pengukuran dan pengamatan masing-masing kelompok serta mengevaluasi kendala yang dihadapi oleh masing-masing kelompok.

Read Previous

Pj Gubernur Harisson Hadiri Kejuaraan Menembak HUT Kodam XII/TPR